Rabu, 01 Januari 2014

PENGGUNAAN ALAT PERAGA SEDERHANA ALTERNATIF (PRAGA SELULIT) UNTUK MENINGKATKAN KREATIFITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA

PENGGUNAAN ALAT PERAGA SEDERHANA ALTERNATIF (PRAGA SELULIT) UNTUK
MENINGKATKAN KREATIFITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA

Suparjo
Guru SMP N 2 JEPON

ABSTRAK
Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas dan hasil hasil penelitian yang dilakukan pada kelas VIIIB Semester 1 SMP Negeri 2 Jepon Kabupaten Blora tahun pelajaran 2013, dapat disimpulkan bahwa penggunakan alat peraga sederhana alternatif (Praga Selulit) pada pembelajaran IPA materi sistem pernafasan dapat meningkatkan kreativitas siswa. Siswa yang menunjukkan kreativitas dengan predikat baik mencapai 18 siswa atau 81,81% dari 22 siswa. Pembelajaran dengan menggunakan alat peraga sederhana alternatif (Praga Selulit) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. dalm hal ini ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 20 siswa atau 90,62% dari 22 siswa dengan nilai rata-rata 76.15. Adanya usaha peneliti untuk meningkatkan kinerja proses pembelajaran, berdampak pada meningkatnya antusias siswa dalam proses proses pembelajaran. Dalam hal ini 81,81% siswa menunjukkan antusias dalam pembelajaran.

Kata kunci: alat peraga sederhana alternatif, kreatifitas, hasil belajar

ADA APA DENGAN SISWA KITA ?

ADA APA DENGAN SISWA KITA ?

Oleh : Indarti, S.Pd
Email : zildadafandri@yahoo.co.id
Guru SMPN 1 Japah Blora

“Kantin hari ini sepi, tidak seperti biasanya anak- anak tidak jajan…” “Tuh anak- anak pada ngumpul di lapangan, ada tontonan gratis bu” Itulah sekilas percakapan antara 2 orang guru, jam istirahat hari Jumat itu memang tak seperti biasanya, banyak siswa berkumpul di lapangan sekolah menyaksikan beberapa siswa laki-laki yang sedang kena hukuman dari guru BP karena sehari sebelumnya ketahuan merokok di lingkungan sekolah sesaat sebelum jam tambahan dimulai. Ini bukan kejadian yang pertama di sekolah tempat saya bekerja, dan saya yakin juga di sekolah- sekolah lain. Yang membuat kami semakin prihatin adalah dari beberapa kasus yang sama, siswa yang bermasalah ya itu- itu juga. Sebagai seorang guru dan orang tua tentu saya tidak ingin hal serupa terjadi pada anak- anak saya, itu yang membuat saya berfikir dan mencari tahu apa yang menyebabkan banyak siswa di sekolah melakukan hal- hal yang melanggar pereturan. Dari beberapa sumber yang saya baca, ada beberapa hal yang menyebabkan siswa melakukan hal tersebut diantaranya adalah :

MENGAPA KEMAMPUAN BERTANYA SISWAKU RENDAH ?

MENGAPA KEMAMPUAN BERTANYA SISWAKU RENDAH ?

Prasetiowati, S.Pd.
prasetiowati.etik@gmail.com
SMPN 1 Ngawen

A. FENOMENA DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI KELAS
Dalam proses pembelajaran berbagai mata pelajaran di SMP ternyata banyak materi-materi abstrak, materi yang memerlukan kemampuan mengingat yang tinggi serta materi yang sulit dipahami oleh siswa. Ketika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung siswa terlihat sulit mengemukakan pendapat, hal ini dibuktikan dengan jarangnya siswa yang mengajukan pertanyaan. Dalam kondisi seperti ini kadang-kadang guru merasa kesulitan sendiri untuk memprediksi apakah diamnya siswa sudah mamahami materi pelajaran atau belum. Ketika dilakukan ulangan harian ternyata hasilnya banyak siswa yang tidak tuntas KKM. Rentang umur siswa SMP umumnya berkisar antara usia 11-15 tahun. Berdasarkan rentang umur 7-12 tahun tahap perkembangan anak mencapai konkret operasional dengan karakteristik dasar anak mengembangkan pikiran logis yang berdasarkan sebagian pada manipulasi fisik objekobjek. Proses-proses berpikirnya pada tahap ini telah reversible. Sedangkan rentang umur 12 tahun ke atas tehap perkembangannya mencapai operasi-operasi formal dengan karakteristik anak belajar untuk bernalar secara hipotesis-deduktif dengan menggunakan simbol-simbol atau gagasan-gagasan. Proses-proses berpikirnya tidak lagi terikat pada manipulasi fisik objek-objek.

OH….ADA APA NILAI IPA KU ?

OH….ADA APA NILAI IPA KU ?

Oleh
Nanik Haryati, S.Pd
(Guru SMPN 3 Ngawen Blora)
Email : Nanik_Haryati12031609711773@hotmail.com

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pelajaran yang diikutkan dalam Ujian Nasional, tetapi mengapa siswa cenderung takut saat guru memberikan pelajaran tersebut? Kenyataan ini tidak hanya terjadi di sekolah pinggiran, tetapi juga disekolah besar. Jika ditanya banyak siswa yang menjawab gurunya galak, pelajarannya membingungkan, atau pelajaran yang banyak diangan – angan. Kita sebagai guru yang berada di desa sering beranggapan bahwa pemberian materi pelajaran dilakukan secara langsung, bahkan kebanyakan beranggapan yang penting materi selesai dan siswa mendapatkan nilai lebih dari KKM. Padahal dalam kenyataanya siswa juga sangat perlu mengetahui proses melalui percobaan atau eksperimen nyata, tidak henya melalui cerita materi IPA, baik itu materi fisika maupun biologi. Kita dapat memotivasi siswa dengan berbagai macam cara karena “guru ora kurang lakon”.

KURIKULUM 2013 di SEKOLAHKU

KURIKULUM 2013 di SEKOLAHKU

Sukariyadi*)
Staff Pengajar IPA SMPN 2 Ngawen
sukariyadi10031609710390@hotmail.com

Sekolahku adalah sekolah pinggiran yang jauh dari perkotaan berada 26 Km dari pusat kota kabupaten. Sebagian besar siswaku dari lingkungan petani penggarap. Faktor inilah yang mungkin menyebabkan motivasi belajar sangat rendah. Ciri lain motivasi rendah adalah ditandai dengan prosentase kehadiran siswa rendah, prosentase kelulusan UN rendah pula apalagi yang melanjutkan ke SMK dan SMA relatif kecil (kurang lebih hanya 15%-20% tiap tahun). Fasilitas sekolah yang jauh dari cukup, apalagi seringya terjadi kasus pencurian yang lebih menambah parah. Sudah beberapa kali kasus pencurian itu terjadi di sekolahku ,yang terakhir Nopember 2013. Semua barang elektronik termasuk komputer siswa, komputer guru, laptop, LCD dan yang lain lenyap semua. Sehingga kendala lain yang mendukung kegiatan pembelajaran sangat jauh dari cukup.

KEDISIPLINAN SISWA SMP NEGERI 2 KUNDURAN

KEDISIPLINAN SISWA SMP NEGERI 2 KUNDURAN

Bekti*)
GURU SMPN 2 KUNDURAN

Siswa yang baik adalah siswa yang selalu disiplin dan selalu mentaati patron secular. Tetapi bagaimana dengan siswa-siswi di SMP N 2 Kunduran? Apakah mereka bisa berdisiplin dan mentaati patron secular? Jawabannya adalah 60% survey membuktikan bahwa  siswa-siswi SMP N 2 Kunduran masih belum berdisiplin. Terutama disiplin tentang waktu, cara berpakaian, larangan membawa Hanphone ke secular, dan lain-lain. Misalnya tentang waktu, di SMP N 2 Kunduran, jam masuk ditetapkan pukul 07.00 WIB. Pada pukul itulah bel masuk dibunyikan. Tetapi apa yang terjadi? Mereka sama sekali tidak menghiraukan suara bel masuk itu. Mereka masih bermain-main di luar kelas, ada yang terlambat, ada kelas yang belum selesai membersihkan kelas.

PENINGKATAN AKTIFITAS BERKOMUNIKASI MENGGUNAKAN METODE TIME TOKEN DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KONSEP FOTOSINTESIS DAN GERAK TUMBUHAN

PENINGKATAN AKTIFITAS BERKOMUNIKASI MENGGUNAKAN METODE TIME TOKEN DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KONSEP FOTOSINTESIS DAN GERAK
TUMBUHAN

Indarti *
SMPN 1 Japah

ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk meningkatkan aktifitas berkomunikasi dan meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep fotosintesis dan gerak tumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan 50% siswa aktif berkomunikasi dan 75% nilai siswa mencapai KKM yang ditentukan sekolah. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dapat disimpulkan bahwa Penerapan metode Time token secara baik dalam pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas berkomunikasi siswadan dapat meningkatkan hasil belajar konsep fotosíntesis dan gerak tumbuhan.

Kata kunci: Time token, aktifitas berkomunikasi, Hasil belajar